
**Singaraja** — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan meningkatnya volume data digital yang dihasilkan setiap hari, pemahaman mengenai konsep dasar Data, Informasi, Pengetahuan, dan Kebijakan menjadi semakin relevan untuk dipahami, khususnya oleh pelaku dunia teknologi dan pengelola sistem informasi. Konsep yang dikenal dengan istilah hierarki DIKW (*Data, Information, Knowledge, Wisdom*) ini menjelaskan bagaimana data mentah yang terkumpul dalam jumlah besar dapat diolah secara bertahap hingga akhirnya melahirkan keputusan atau kebijakan yang bijaksana dan berdampak.
"Data yang menumpuk tanpa diolah tidak akan memberikan nilai apa pun bagi organisasi. Justru sebaliknya, data yang dikelola dengan baik bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan strategis," ujar I Komang Tri Edi Wardana (Prakom-IMK). Menurutnya, tahap paling dasar dalam hierarki ini adalah data, yakni fakta-fakta mentah yang belum memiliki makna kontekstual, seperti angka, teks, maupun simbol hasil dari pencatatan atau pengukuran suatu kejadian. Sebagai contoh, dalam sebuah sistem informasi digital, data dapat berupa judul kegiatan, tanggal pelaksanaan, atau status publikasi yang tersimpan di dalam basis data.
Data semacam ini belum dapat dipahami maknanya oleh pengguna awam sebelum diolah lebih lanjut. Tahap berikutnya adalah informasi, yaitu data yang telah diolah dan disusun sedemikian rupa sehingga memiliki konteks dan dapat dipahami oleh penerimanya. Proses ini biasanya melibatkan pengelompokan, penyaringan, atau penyusunan data menjadi kalimat maupun tampilan visual yang informatif. "Informasi inilah yang biasanya kita lihat sehari-hari di halaman berita atau artikel pada sebuah situs web. Data mentah di baliknya sudah disusun sedemikian rupa agar mudah dibaca dan dipahami pengunjung," jelasnya.
Tahap ketiga, pengetahuan, terbentuk dari akumulasi berbagai informasi yang dianalisis dan dihubungkan satu sama lain sehingga memunculkan pemahaman mengenai pola maupun hubungan sebab-akibat. Ia mencontohkan, ketika sebuah organisasi mengamati bahwa artikel bertema keamanan siber secara konsisten mendapatkan jumlah pembaca lebih tinggi dibandingkan topik lain selama beberapa bulan terakhir, maka pemahaman tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai pengetahuan.
Tahap tertinggi dalam hierarki ini adalah kebijakan atau *wisdom*, yaitu penggunaan pengetahuan untuk mengambil keputusan yang bijaksana dengan mempertimbangkan nilai, etika, dan dampak jangka panjang bagi organisasi maupun masyarakat luas. "Kebijakan tidak sekadar menjawab apa yang terjadi atau mengapa itu terjadi, tetapi menentukan langkah nyata apa yang seharusnya diambil ke depan," tambahnya.
Sebagai ilustrasi, berdasarkan pengetahuan bahwa konten keamanan siber lebih diminati pembaca, sebuah lembaga dapat mengambil kebijakan untuk secara rutin memproduksi konten edukasi seputar keamanan digital sekaligus mengintegrasikannya ke dalam program-program yang lebih luas. Pemahaman terhadap keempat konsep ini dinilai penting bagi pengembang maupun pengelola sistem informasi, termasuk dalam pengelolaan platform berita dan artikel digital.
Data yang tersimpan di basis data akan diolah menjadi informasi yang ditampilkan kepada pengguna, dianalisis untuk menghasilkan pengetahuan mengenai perilaku dan kebutuhan pembaca, hingga akhirnya digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan pengembangan sistem maupun strategi konten ke depan.
"Sebuah sistem informasi yang baik idealnya tidak berhenti hanya pada menyimpan dan menampilkan data, tetapi turut mendukung proses transformasi data menjadi pengetahuan yang bisa digunakan untuk mengambil kebijakan yang berdampak nyata," pungkasnya.